Bayangkan kita sedang berdiri di persimpangan jalan. Satu jalan terlihat mudah, ramai, dan menyenangkan. Jalan yang lain lebih sepi dan tidak selalu mudah, tetapi membawa damai. Ini bukan hanya soal jalan hidup, tetapi soal pilihan hati, kita mau menaruh cinta kepada siapa.?
Dalam 1 Yohanes 2:15-17, Yohanes berkata bahwa : jangan mengasihi dunia. Maksudnya bukan dunia ciptaan Tuhan, tetapi cara hidup dunia yaitu : keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup.
Sering kali kita mencoba berada di dua sisi, dimana kita tetap mengasihi Tuhan, tetapi juga ingin mengikuti cara hidup dari dunia. Padahal firman Tuhan jelas bahwa tidak bisa dua-duanya. Kita harus memilih salah satunya.
Mengkhianati dunia berarti kita berani berkata tidak pada hal-hal yang bisa menjauhkan kita dari Tuhan. Dunia menawarkan kesenangan, harta, dan pengakuan, tetapi semuanya sementara dan akan berlalu pada saatnya. Sebaliknya, orang yang melakukan kehendak Tuhan akan hidup selama-lamanya.
Jadi ketika kita meninggalkan dunia, kita tidak kehilangan apapun. Justru kita mendapatkan hidup yang sejati di dalam Tuhan yaitu kehidupan kekal.
Memang tidak mudah, karena dunia sering datang dengan cara yang halus dan menarik. Ia tidak selalu terlihat jahat, justru sering terlihat baik, menyenangkan, dan wajar. Kita ditawari kenyamanan, pengakuan, kesuksesan, dan kesenangan. Semua itu bisa membuat hati kita perlahan menjauh dari Tuhan tanpa kita sadari. Disinilah dapat kita pahami dengan baik bahwa kita di panggil bukan sekedar percaya kepada Tuhan, tetapi dalam kepercayaan itulah kita berani mengambil sikap untuk memutuskan hubungan dengan dunia, supaya kepercayaan dan pengiringan kita akan Tuhan tidak menjadi sia-sia.
Berani berkata tidak berarti kita punya batas yang jelas. Tidak semua yang boleh itu baik, dan tidak semua yang menyenangkan itu benar. Kadang kita harus berkata tidak pada dosa yang kecil menurut pandangan kita, kompromi yang tampaknya sepele, atau kebiasaan yang perlahan menjauhkan kita dari Tuhan. Ini bukan soal terlihat rohani di depan orang, tetapi ini soal hati yang mau taat sepenuhnya kepada Tuhan.
Semua ini dimulai dari hal-hal kecil. Dari apa yang kita pikirkan setiap hari, apakah kita memenuhi pikiran kita dengan hal yang membangun atau yang menjauhkan kita dari Tuhan. Dari apa yang kita kejar, apakah hanya kesuksesan dunia, atau juga kehendak Tuhan. Dan dari apa yang kita utamakan, apakah Tuhan benar-benar menjadi yang pertama, atau hanya menjadi bagian dari hidup kita. Semua terpulang kepada setiap keputusan pribadi setiap kita.
Setiap kali kita memilih Tuhan dalam hal kecil, kita sedang melatih hati kita untuk tetap setia dalam hal yang lebih besar.